
Transformasi digital kini bukan lagi sekadar pilihan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di tengah perubahan perilaku konsumen dan ekonomi digital yang makin luas, pemanfaatan teknologi jadi kunci buat meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, memperkuat pengelolaan keuangan, hingga membuka jalan ke pasar global.
Baca juga: FEKDI x IFSE 2026 Resmi Dibuka, BI Dorong Penguatan Ekosistem Keuangan Digital
Baca juga: Cara Menyusun Business Plan Sederhana untuk Usaha Pemula
Baca juga: Zankore by Indosat Kantongi Rp54 Triliun untuk Bangun Platform AI Raksasa di ASEAN
Baca juga: Ajaib Kantongi Rp4,8 Triliun dari Jepang: Investasi Startup Terbesar dalam 5 Tahun
Baca juga: Cara Menyusun Business Plan Sederhana untuk Usaha Kecil dan UMKM
Baca juga: KKI 2026: Penjualan UMKM Tembus Rp144,2 Miliar, Naik 46% dari Tahun Lalu
Baca juga: Pembiayaan UMKM Capai Rp180,9 Triliun, Riwayat Kredit Masih Jadi Hambatan
Baca juga: Airlangga Dorong Pembiayaan UMKM Tembus Rp2.000 Triliun, Ini Artinya buat Pelaku Usaha
Tiga Jalur Digitalisasi UMKM
Bank Indonesia mendorong percepatan transformasi ini lewat tiga strategi utama: e-farming, e-commerce, dan e-financing. Ketiganya diarahkan agar digitalisasi nggak berhenti di penggunaan teknologi semata, tapi benar-benar menghasilkan peningkatan kapasitas usaha dan membawa UMKM naik kelas.
Pesan ini disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta saat membuka Innovation Talk Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta. Strategi e-farming memanfaatkan digital farming untuk meningkatkan produktivitas sektor hulu, e-commerce mendorong UMKM masuk ekosistem perdagangan digital, sementara e-financing dijalankan lewat aplikasi pencatatan keuangan SIAPIK yang membantu UMKM membangun rekam keuangan demi akses pembiayaan.
QRIS Makin Merata
Transformasi digital UMKM juga terlihat dari makin luasnya penggunaan pembayaran digital. Hingga Juni 2026, QRIS sudah dipakai 65,77 juta pengguna dan diterima 44,86 juta merchant — dan sebanyak 96,68 persen di antaranya adalah UMKM. Artinya, pembayaran digital kini benar-benar jadi bagian dari aktivitas bisnis sehari-hari.
Dorongan ke Pasar Global
Digitalisasi nggak cuma memudahkan transaksi di dalam negeri. Pemanfaatan QRIS cross-border membuka peluang bagi UMKM menerima pembayaran dari konsumen di negara mitra. Ini jadi salah satu pintu bagi produk lokal buat berinteraksi dengan pasar internasional.
Contoh nyatanya terlihat di Jawa Timur. Dalam Java Coffee and Flavors Fest (JCFF) Juli 2026 di Surabaya, fasilitasi business matching menghasilkan kerja sama senilai Rp92 miliar — terdiri dari Rp67 miliar kesepakatan perdagangan dan Rp25 miliar business matching pembiayaan. Angka ini membuktikan bahwa pengembangan UMKM bisa diarahkan bukan hanya buat eksposur produk, tapi juga transaksi nyata.
Kolaborasi Jadi Kunci
Pengalaman di Jawa Timur menunjukkan bahwa transformasi digital bakal berdampak lebih besar kalau berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas usaha, akses pembiayaan, perluasan pasar, dan keterhubungan dengan rantai nilai. Karena itu, sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, perbankan, industri, akademisi, komunitas, dan pelaku usaha jadi faktor penting.
Pesan besarnya jelas: bagi UMKM, digitalisasi bukan sekadar berpindah dari transaksi tunai ke digital. Transformasi yang sesungguhnya terjadi ketika teknologi mampu membuat usaha lebih produktif, pengelolaan lebih tertib, pasar lebih luas, pembiayaan lebih mudah diakses, dan produk lokal punya peluang menembus pasar global.
Sumber: Bank Indonesia / EtIndonesia