Kebijakan baru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) soal pinjaman online (pinjol) kembali jadi sorotan. OJK kini membolehkan masyarakat meminjam ke lebih dari tiga penyelenggara pinjol. Sebelumnya, ada pembatasan maksimal tiga platform. Perubahan ini didasari alasan kebutuhan pendanaan masyarakat, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah serta sektor informal, yang masih cukup tinggi.

Baca juga: Branding untuk Usaha Kecil: Cara Membuat Brand yang Mudah Diingat Pelanggan

Baca juga: Merger BUMN Karya Ditargetkan Rampung Akhir 2026, Tujuh Perusahaan Disatukan Jadi Tiga

Risiko di Balik Pelonggaran

Namun, kebijakan ini tidak lepas dari risiko. Para pengamat menilai pelonggaran tersebut berpotensi membuat outstanding pinjaman online dan kredit macet meningkat. Semakin banyak platform yang bisa diakses, semakin besar pula kemungkinan seseorang menumpuk pinjaman tanpa perencanaan matang.

Pinjaman online sebenarnya bukan hal yang buruk bila dipakai dengan benar. Masalah muncul ketika dana pinjaman dipakai untuk kebutuhan konsumtif tanpa perhitungan, atau ketika seseorang meminjam di banyak tempat sekaligus demi menutup pinjaman sebelumnya.

Cara Bijak Memakai Pinjaman Online

Bagi yang sedang mempertimbangkan pinjol, ada beberapa prinsip yang perlu dipegang.

Pertama, pastikan platformnya terdaftar dan berizin OJK. Pinjol ilegal sering menawarkan proses cepat dengan bunga tidak masuk akal dan praktik penagihan yang merugikan. Selalu cek status legalitas sebelum mengajukan pinjaman.

Kedua, pinjam sesuai kebutuhan dan kemampuan bayar. Hitung cicilan bulanan dan pastikan tidak mengganggu kebutuhan pokok. Sebagai patokan sederhana, total cicilan idealnya tidak melebihi sebagian kecil dari penghasilan bulanan.

Ketiga, hindari meminjam untuk menutup pinjaman lain. Pola gali lubang tutup lubang ini adalah jalan paling cepat menuju masalah keuangan yang berlarut-larut.

Utamakan Dana Darurat

Sebelum memutuskan meminjam, ada baiknya mengevaluasi kembali kondisi keuangan. Membangun dana darurat secara bertahap bisa mengurangi ketergantungan pada pinjaman saat kebutuhan mendesak muncul. Dengan begitu, pinjaman online cukup jadi pelengkap, bukan penyangga utama keuangan.

Pelonggaran aturan memang membuka akses lebih luas, tapi keputusan akhir tetap ada di tangan peminjam. Semakin bijak kita mengelola pinjaman, semakin kecil risikonya menjadi beban.

Sumber: Tempo