
Di tengah keringnya aliran modal ke startup Indonesia, kabar besar justru datang dari Ajaib Group. Perusahaan investasi ritel ini berhasil mengantongi pendanaan sebesar Rp4,8 triliun atau sekitar US$270 juta dari SBI Holdings, konglomerasi keuangan asal Jepang.
Baca juga: Kemenekraf Gandeng AMVESINDO, Perluas Akses Pendanaan untuk Startup Ekraf
Baca juga: Zankore by Indosat Kantongi Rp54 Triliun untuk Bangun Platform AI Raksasa di ASEAN
Baca juga: 8 Startup Indonesia Masuk Forbes Asia 100 to Watch 2026, Ini Daftarnya
Baca juga: 13 Startup Indonesia Masuk Daftar Pertumbuhan Tertinggi 2026, Ini Daftar dan Pelajarannya
Angka ini disebut-sebut sebagai investasi startup terbesar di Indonesia dalam kurun lima tahun terakhir. Sebuah pencapaian yang terasa kontras dengan kondisi industri yang belakangan dilanda tech winter atau musim dingin pendanaan.
SBI Holdings Kini Pegang 20% Saham
Melalui transaksi ini, SBI Holdings resmi memegang sekitar 20 persen saham Ajaib Group. Keterlibatan investor strategis sebesar ini bukan hanya soal suntikan modal, tetapi juga akses terhadap jaringan, teknologi, dan pengalaman SBI yang sudah matang di industri keuangan global.
Bagi Ajaib, kehadiran SBI bisa memperkuat posisinya sebagai platform investasi ritel sekaligus membuka peluang ekspansi produk dan layanan yang lebih luas. Sinergi antara keduanya berpotensi menghadirkan inovasi baru bagi para investor muda di Tanah Air.
Bukti Investasi Asing Tidak Kabur
Manajemen Ajaib menyambut positif transaksi ini. Mereka menegaskan bahwa masuknya SBI Holdings menjadi bukti bahwa minat investor asing terhadap Indonesia tetap tinggi, meski ada persepsi bahwa arus modal asing tengah melambat. Pernyataan ini sekaligus membantah kekhawatiran yang sempat berkembang di pasar.
Dari sisi makro, pendanaan jumbo ini juga menjadi sinyal bahwa fundamental ekonomi digital Indonesia masih menarik di mata investor global, khususnya di sektor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat luas.
Konteks Tech Winter
Beberapa tahun terakhir, startup Indonesia memang menghadapi tantangan berat. Banyak perusahaan rintisan yang kesulitan mencari pendanaan, dan sebagian terpaksa melakukan efisiensi besar-besaran. Fokus investor bergeser dari sekadar mengejar pertumbuhan ke arah profitabilitas yang berkelanjutan.
Dalam konteks inilah pendanaan Ajaib terasa istimewa. Angka Rp4,8 triliun menunjukkan bahwa investor masih bersedia mengucurkan dana besar, asalkan perusahaan rintisan tersebut punya model bisnis yang solid dan jalur menuju profit yang jelas.
Pelajaran buat Pelaku Usaha
Ada beberapa hal yang bisa dipetik dari kisah Ajaib. Pertama, kualitas model bisnis lebih penting daripada sekadar pertumbuhan pengguna yang cepat. Kedua, kemitraan strategis dengan investor yang tepat bisa membawa nilai lebih dari sekadar modal. Ketiga, di tengah kondisi sulit sekalipun, peluang besar tetap terbuka bagi perusahaan yang mampu membuktikan ketahanan bisnisnya.
Dengan suntikan dana segar ini, Ajaib kini punya amunisi besar untuk terus berkembang. Kita tunggu saja langkah ekspansi apa yang akan mereka ambil berikutnya di panggung ekonomi digital Indonesia.
Sumber: CNBC Indonesia